
Literatur hikmat Israel memiliki banyak kesamaan dengan literatur hikmat timur dekat kuno lainnya.
Berbicara tentang masalah dan penderitaan manusia, orang-orang di timur dekat kuno sangat peduli dengan itu.
Banyak teks mereka yang mengangkat tema-tema yang mirip dengan Ayub, baik dalam struktur mau pun tema.
Misalnya teks Mesir Kuno, yang berbicara tentang petani yang protes sekitar abad 21 SM.
Teks Mesir ini menceritakan kisah seorang petani yang barang-barangnya dirampok saat menuju pasar, namun ketika dia melaporkan kepada pemerintah lokal, laporannya ditolak.
Petani tersebut mengajukan permohonan ganti rugi kepada kepala pengawas distrik tersebut. Awalnya, ia mengajukan kasusnya dengan baik, sopan di hadapan pengawas.
Namun karena kurang ditanggapi dia menjadi provokatif. Dia mulai demonstrasi dengan mulai bericara dan berpidato panjang lebar untuk meyakinkan pejabat lokal.
Setelah Sembilan kali pidato panjang, pejabat lokal kemudian menyelesaikan laporannya dengan memberikan harta milik dari yang merampoknya.
Titik temu dengan Ayub adalah penggunaan pidato panjang dari yang dirugikan atau korban untuk membahas isu keadilan.
Perbedaan Ayub dengan petani. Ayub menjadi semakin percaya diri seiring berlarutnya kasusnya. Selain itu, teriakan ketidakadilan Ayub ditujukan kepada Tuhan, bukan kepada pejabat lokal.
Ayub menemukan makna hidup yang lebih besar daripada rekan Mesirnya, dan pandangannya tentang Tuhan mencegahnya dari bunuh diri.
Dalam karya Mesir, pidato orang yang di zalimi sebagai monolog, tetapi pidato Ayub, sebagian besar, ditujukan kepada pihak-pihak tertentu.
Selain literatur Mesir, literatur hikmat Sumeria/Msopotamia juga mirip dengan Ayub, yaitu membahas masalah penderitaan.
Puisi Sumeria sekitar abad ke 2 SM, membahas penderitaan seorang baik dan jujur. Dia menderita sakit parah.
Dia mengeluh tentang sakitnya. Berharap anggota keluarganya turut mengeluh dengan dia. Dia memohon kepada dewa agar dia mendapat pertolongan.
Dia mengaku telah berbuat dosa. Dewa menjawab doanya dan memulihkan kesehatan orang tersebut dengan mengusir setan penyakit tersebut.
Dalam budaya Sumeria, sesuatu dianggap dosa atau pelanggaran, bila itu berkaitan dengan ritual agama mereka.
Contohnya kalau seseorang menginjak tanpa sengaja tempat suci dari beberapa dewa. Atau mungkin memakan makanan yang dilarang dewa yang dikenal atau tidak dikenal..
Jika ada pelanggaran ritual terjadi, dewa mungkin akan meninggalkan seseorang dan menarik perlindungannya, maka orang tersebut rentan terhadap segala macam masalah.
Ayub bukan seorang penganut penyembah banyak dewa (politeisme). Dia tidak pernah menunjukan penghormatannya kepada matahari atau bulan. Dewa sesembahan orang jaman kuno.
Siapa pun selain orang Israel di dunia kuno akan dengan mudah mengakui dewa-dewa kosmik ini, tetapi Ayub menahan diri untuk tidak melakukannya, yang mengindikasikan mentalitas orang Israel.
Dia mengenali Tuhan pencipta dengan baik. itu sebabnya dia tidak memohon kepada dewa-dewa lain.
Kesamaan dengan Kitab Ayub juga ditemukan dalam karya Akkadia yang dikenal sebagai “The Babylonian Ecclesiastes” atau “A Dialogue about Human Misery” (sekitar 1000 SM).
Diceritakan tentang seorang penderita bernama Shaggil-kinam-ubbib. Dia berdialog dengan seorang teman tentang keadilan ilahi dan penderitaan manusia. Dalam bentuk puisi mereka bertukar pikiran.
Dengan sedih dia menceritakan penderitaannya, bahwa dia telah menjadi yatim piatu sejak muda. dan selama itu hidupnya penuh sengsara. Dan dia telah berdoa kepada dewa.
Lalu sahabatnya itu menuduh dia telah berniat dalam hatinya melanggar perintah dewa.
Ia juga menegaskan bahwa orang jahat pasti akan mendapat balasannya dan menasihati temannya untuk mencari pertolongan Tuhan.
Penderita mengeluh bahwa para dewa tidak menahan setan jahat, padahal dia telah merendahkan diri. Dia diejek oleh orang-orang kaya.
Temanya itu menjawab, bahwa dia telah menuduh dewa tidak adil, karena cara-cara para dewa jauh dan melampaui pemahaman manusia.
Untuk mendukung argumennya, dia merujuk pada anomali alam, misalnya anak sapi pertama cenderung kurus. Tapi anak sapi kedua akan lebih besar dua kali lipat.
Teman yang menderita ini dengan mengeluh menjawab seperti Ayub, bahwa orang-orang memuji penjahat, sementara mereka menyiksa orang yang tak bersalah.
Teman itu mengakui bahwa para dewa telah menciptakan manusia dengan lidah yang sesat dan cara-cara yang menipu.
Dalam sisa bait terakhir puisi tersebut, orang yang menderita memohon pengertian dari temannya dan belas kasihan dari Ninurta, Ishtar, dan raja.
Akhirnya, para dewa tiba-tiba menjawab permohonan penderita dengan memulihkan kesehatannya.
Meskipun dialog hanya terjadi antara dua pihak dan pidato mereka lebih singkat daripada yang ada dalam Kitab Ayub, teks ini mungkin telah mempengaruhi format Kitab Ayub.
Namun, sifat penderitaan dan pendekatan dalam menyelesaikan masalah sangat berbeda dengan yang terdapat dalam Kitab Ayub.
Para penderita di Timur Dekat kuno siap untuk mengakui kesalahan segera setelah mereka diperlihatkan apa itu kesalahan.
Mereka cenderung percaya bahwa mereka telah melakukan pelanggaran, bahkan untuk hal-hal yang tidak prinsip dan moral.
Ayub menolak bahwa dosanya telah membuat dia menderita, seperti yang dituduhkan teman-temannya.
Cara berpikir orang timur dekat kuno bahwa mereka diciptakan untuk memenuhi kebutuhan para dewa, seperti makanan (kurban), minuman (persembahan), tempat tinggal (kuil), pakaian, dan semua kemewahan yang berhubungan dengan gaya hidup mereka yang mewah.
Dan, karena para dewa membutuhkan mereka, maka para dewa pun berkewajiban untuk menyediakan makanan dan perlindungan bagi para penyembahnya.
Oleh karena itu, para dewa dan manusia berada dalam hubungan saling ketergantungan. Mereka saling membutuhkan. Jadi hubungan mereka adalah transaksional.
Berbeda dengan Ayub. Dia tidak melihat Tuhan seperti dewa-dewa. Tuhan tidak bergantung kepada manusia. Dia tidak membutuhkan manusia untuk memenuhi keperluannya.
Poinnya, Semua manusia dari segala generasi, bangsa, suku, kepercayaan, kaya, miskin, bangsawan, rakyat jelata, sama-sama mengalami penderitaan.
Namun perbedaannya adalah bagaimana merespon penderitaan tersebut. Siapa yang kita sembah dan bagaimana kita mengenal sesembahan kita, akan menentukan respon terhadap penderitaan.
Seperti Ayub, dia mengenal Tuhan dengan baik. Dia tetap berpikir positif. Dalam ketidaktahuannya, dia memilih diam dan percaya bahwa Tuhan baik. Dia punya rencana yang indah.
Bagaimana dengan kita? Seperti apa kita menanggapi bila kita menderita? Atau bagaimana kita bersikap terhadap mereka yang menderita?
Ada kecenderungan banyak orang, bila melihat seseorang menderita, kita menjadi seperti teman-teman Ayub dan orang jaman kuno, berpikir, dosa apa yang telah dia perbuat!
Saat kita menderita, mari kita lakukan apa yang dikatakan Yakobus 5:13 yang berbunyi,
“Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira, baiklah ia menyanyi!”
Doa adalah cara yang tepat untuk menghadapi penderitaan. Doa adalah bentuk komunikasi dengan Tuhan, memohon kekuatan, penghiburan, dan kesembuhan.
Tidak ada komentar