
Pertanyaan utama dalam kitab Ayub adalah bagaimana Allah menjalankan dunia ini?
Respon Ayub terhadap penderitaannya menjadi penting karena akan menjadi pertimbangan untuk melihat bagaimana Tuhan menjalankan dunia ini.
Disini kita akan melihat apakah ada kebenaran tanpa pamrih atau melayani Tuhan tanpa pamrih..
Saat Ayub menderita kita dapat melihat bahwa dia memiliki masalah dengan kebijakan Tuhan.
Dia beranggapan bahwa kebijakan Tuhan membiarkan orang benar menderita adalah kebijakan yang buruk. Dia berpikir Allah tidak adil.
Ketika orang-orang benar menderita itu bukanlah kebijakan yang baik.
Maka mucul pertanyaan yang lebih dalam. Apakah benar kebijakan Allah untuk memberkati hanya orang benar dan mendatangkan penderitaan hanya kepada orang jahat?
Jika jawabanya “ya” mengapa dalam praktekt hidup sering kali hal itu tidak benar? faktanya banyak orang benar menderita dan sebaliknya orang jahat kaya raya. Makmur..
Bagaimana Allah menjalankan dunia ini? Apakah kita bisa mengatakan bahwa kebijakan Allah adalah yang terbaik?
Jadi saat kita mempertanyakan kebijakan Allah, maka Ayub adalah contoh kasus yang dapat kita pertimbangkan bagaimana Allah mengatur dunia ini dan bagaimana kita berpikir tentang Allah ketika hidup kita menjadi kacau..
Nah untuk memahami bagaimana Allah menjalankan dunia ini maka kita harus fokuskan pikiran kita kepada Allah bukan kepada Ayub.
Kita perlu melihat alasan kebenaran bukan alasan penderitaan..
Mungkin pertanyaannya perlu kita ganti. Kita sering membuat pertanyaan, “Mengapa Ayub menderita?
Sekarang kita ganti pertanyaanya, , “Mengapa Ayub orang benar?”
Tidak ada penjelasan yang pasti yang ditawarkan mengapa penderitaan terjadi. Tetapi ada banyak hal yang menarik tentang apa yang dimaksud dengan kebenaran..
Kita tidak perlu memahami penderitaan Ayub. Karena kita tidak akan mampu memahaminya. Apalagi kita tidak pernah merasakan penderitaan seperti dia..
Apa yang perlu kita pahami adalah kebenarannya. Apakah kebenaran Ayub bertahan ketika kebijakan Allah tidak dapat dipahami atau tidak masuk akal?
Rasa sakit dan penderitaan Ayub menimbulkan perdebatan tentang mengapa dia menderita. Ketiga sahabatnya bertindak sebagai guru bijaksana.
Mereka memiliki pendapat masing-masing tentang alasan penderitaan Ayub.
Dan kita akan dapat melihat dalam alur cerita, siapa yang menang dalam perdebatan tentang alasan penderitaan Ayub. Tuhan juga masuk dalam perdebatan..
Pada akhirnya kita akan melihat bahwa ini bukan tentang Ayub tetatau tentang manusia yang hikmatnya terbatas..
Tetapi ini tentang Tuhan, yang hikmatnya tidak terbatas dan hanya dia yang Maha Bijaksana, yang kebijaksanaan-Nya sulit diselami manusia..
Paulus menyadari akan hal itu, dia mengatakan,
“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” Roma 11:33-34.
Dalam buku Kebahagiaan Sejati, hal 99 menuliskan,
“Mustahil sekali pikiran yang terbatas dengan sepenuhnya memahami semua sifat pekerjaan Allah Yang Tiada Batasnya itu. Bagi pikiran yang cerdas sekalipun, otak yang dididik setinggi-tingginya, kepadanya Allah masih tetap harus merupakan rahasia..”
Poinnya bahwa kita tidak dapat memahami cara kerja Allah atas dunia ini. Tetapi kita dapat memahaminya tindakan-Nya terhadap kita dan motif yang menggerakkan-Nya.
“Kita dapat memahami maksud-maksud-Nya sejauh yang perlu kita tahu untuk kebaikan kita; dan lebih daripada itu kita harus percaya pada tangan yang maha kuasa, hati yang penuh dengan kasih itu.” KS, 99.
Jadi sekali pun kita tidak tahu mengapa orang benar menderita, yang kita tahu adalah bahwa Allah bekerja disana untuk kebaikan kita..
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28
Tidak ada komentar