
“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau; Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” Ayub 42:5–6
Bagaimana kita berpikir dengan baik tentang Allah ketika bencana melanda? Ketika hidup berjalan tidak baik: Kecelakaan, penyakit, dukacita, usaha gagal, musibah menimpa kita, dll
Kita ingin mengetahui bagaimana Allah mengatur dunia ini. Dan apakah kebenaran kita akan bertahan?
Kitab Ayub menjelaskan bahwa kita tidak dapat menjelaskan semua peristiwa yang terjadi dalam hidup kita.
Kita tidak dapat memahami cara Allah bekerja menjalankan dunia ini. Ayub juga menjelaskan bahwa keadilan Allah bukanlah dasar bagaimana dunia ini berjalan.
Dari pada mencoba memahami segala sesuatu yang terjadi sebagai cerminan dari keadilan Allah, kita harus belajar untuk mempercayai hikmat-Nya atas segala sesuatu.
Karena kita tidak memahami cara Tuhan menjalankan dunia ini, maka Tuhan menyuruh kita untuk diam saja.
Tuhan berkata, “Akulah Allah, engkau bukan Tuhan..jadi diam saja urus urusanmu sendiri..”
“Aku bisa melakukan apa yang kuinginkan,”
Pemahaman yang lebih baik adalah, “Akulah Allah, yang sangat bijaksana dan berkuasa, jadi Aku ingin kamu mempercayai-Ku bahkan ketika kamu tidak mengerti.”
Rasa sakit pasti akan menimpa kita masing-masing. Kita tidak dapat menghindari penderitaan dalam hidup ini.
Maka hal yang lebih penting adalah, apakah hubungan kita dengan Tuhan cukup ketika pencobaan datang?
Akankah kita mempercayai-Nya pada waktu kita menderita? Coba baca Ayub 38–42 . Luangkan waktu merenungkannya.
Berdoalah untuk iman yang lebih kuat kepada Pencipta yang kuat yang dijelaskan dalam pasal-pasal tersebut.
Berdoalah untuk sudut pandang yang benar tentang-Nya sehingga kita dapat melihat situasi kita melalui mata-Nya.
Alih-alih bertanya di mana Tuhan ketika kita menderita, kitab Ayub menegaskan kendali Tuhan dan bertanya kepada kita, “Di mana kita dalam rasa sakit kita?
Apakah kita mempercayai Pencipta kita, meskipun kita tidak dapat memahami keadaan kita?”
Tuhan mengizinkan rasa sakit karena alasan yang baik, tetapi Dia mungkin tidak pernah mengungkapkan alasan-alasan itu.
Tuhan tidak menjawab pertanyaan Ayub tentang “Mengapa?” Dia malah membanjiri Ayub dan teman-temannya dengan kebenaran tentang keagungan dan kedaulatan-Nya.
Ayub menjadi lebih memahami kuasa dan kemegahan Tuhan, lebih mempercayai-Nya. Itu sebabnya Ayub berkata:
“Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau; Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” Ayub 42:5–6
Tidak ada komentar